Sabtu, 22 September 2012

Bunda

Mataku menerawang. Aku melihat awan diatas sana menghitam. Ah, kenapa harus hujan? Aku memang tidak pernah menyukai hujan. Bagiku hujan itu meluruhkan segalanya, mendatangkan keresahan, dan menghadirkan kesepian. Aku melirik foto yang ada di meja kecil sebelah kursi tempatku duduk dan meraihnya. Ibu, sudah berapa lama ya? Aku sadar mataku mulai panas. Pikiranku otomatis memutar kembali kejadian 5 tahun yang lalu.
***
"Kamu yakin, Nak? Kenapa tidak besok saja? Ibu masih belum selesai melepas rinduku padamu."
"Aku harus berangkat, Bu. Besok ada rapat penting yang harus kuhadiri. Kalau aku ada waktu senggang pasti aku akan pulang"kataku sambil masih membereskan pakaianku ke dalam koper.
"Kapan waktu senggangmu? Lebaran tahun depan?"
Aku berhenti dan memandang Ibu ku dengan tatapan resah. 
"Ibu, Ibu tahu sendiri aku bagaimana disana. Kali ini aku berjanji waktu senggangku akan kupakai untuk pulang menemui Ibu"aku memeluk Ibu ku dan mencium pipinya. "Aku sayang Ibu..."
Ibu ku hanya tersenyum.
***
Handphone ku bergetar di dalam saku blazerku. Aku mengambilnya sebentar dan melihat layar LCD nya. Ibu. Aku menekan tombol reject. Aku akan menelpon ibu nanti. Dan aku melanjutkan presentasi ku di depan partner kerjaku.
***
Aku baru saja sampai rumah dan belum sempat menghela napas. Handphone ku kembali menyala. Ibu. Kali ini aku mengangkatnya.
"Ini tante, Ras. Ibu mu, tadi sore terkena serangan jantung dan langsung meninggal, Ras..."
"Gak mungkin, tante. Tadi pagi Ibu masih sempat menelponku kok"aku tidak mau percaya.
"Ya, itu telpon terakhir Ibu mu"
Seketika aku langsung naik ke mobil dan mengendarainya pulang ke rumah. Diluar hujan. Kenapa hujan? Aku semakin membencinya. Tak sampai 2 jam aku sudah sampai di rumah. Sesampainya, aku langsung turun dari mobil dan berlari menuju rumah. Hujan, untuk sekali ini aku menyukaimu. Hujan, luruhkan semua kesedihanku. Hujan, untuk sekali   ini sembunyikan air mataku...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar