Awal aku
mengenalnya masih biasa. Hanya sebatas rekan kerja. Memang kita sering
berbicara berdua, jalan berdua, dan makan berdua. Tapi semua itu hanya karena
urusan pekerjaan. Tidak lebih. Semua perbincangan selama makan dan jalan pun
hanya sebatas tentang naik turun saham perusahaan. Ketika kamu dipindahtugaskan
keluar kota pun aku hanya mengucapkan salam perpisahan sebagai teman biasa.
Tetapi semua menjadi tidak biasa ketika aku dan kamu bertemu di dunia maya.
Sering kita hanya saling bertanya kabar. Lain kalinya, kita bertukar cerita
tentang keseharian kita. Dan akibatnya sekarang aku jadi terbiasa dengan sapaan
dan ceritamu lewat sosial media yang dibatasi 140 karakter itu. Tidak cukup,
aku dan kamu bertukar nomor telepon. Saling menyapa lewat saluran udara. Suara
renyahmu sering menjadi pengantar tidurku di malam hari. Menemani dan
mendengarkan cerita ku sampai larut. Dan ketika matahari mulai mengintip dari
peraduannya, saat itulah suara mu juga yang menyapa membangunkanku. Setiap kamu
melakukan itu seolah tiba-tiba ada yang menanam jutaan benih bunga di dalam
hatiku yang dalam sekejap langsung tumbuh menjadi bunga warna-warni yang indah.
Iya, aku tahu itu memang tidak mungkin. Tapi bukankah orang yang jatuh cinta
memang selalu bisa memungkinkan semua yang tidak mungkin? Hei, apakah aku jatuh
cinta? Iya, dan itu kepadamu, Sayang. Aku terbuai dengan perhatian dan cintamu
yang melambungkanku entah sampai ke langit tingkat berapa. Aku tidak sempat
menghitungnya karena terlalu sibuk memikirkanmu. Apa saat itu kamu juga
memikirkanku, Sayang?
"Hei, bisa
menengok keluar jendelamu sebentar?"
Saat itu masih
sangat pagi. Bahkan matahari masih enggan menyibakkan selimutnya dan keluar
dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih setengah tertutup aku berjalan
menuju jendela kamarku dan membukanya. Udara pagi yang dingin dan bau embun
segera mengirimkan impuls menuju otakku untuk membuat mataku terbuka lebar. Ah,
jadi begini bau embun pagi segar. Aku menutup mataku kembali. Berusaha
menikmati ketenangan pagi ini. Dan dibawah jendelaku kamu sudah siap dengan
beberapa bunga yang entah kapan kamu siapkan. Aku tersenyum melihat untaian
huruf yang dibentuk bunga-bunga itu. Segera aku mengambil telepon genggamku dan
mengetikkan 4 kata dengan cepat "i love you too".
Aku merasa
menjadi yang paling bahagia saat itu. Anganku kamu terbangkan semakin tinggi.
Kamu buatku menjadi yang paling beruntung karena memilikimu. Sebuah anugerah
yang tidak ternilai indahnya.
"Ada
sesuatu yang sebenarnya belum aku katakan padamu. Aku...sudah mempunyai kekasih
sebelummu."
Kebahagiaanku
tidak berlangsung lama rupanya. Anganku tiba-tiba saja kamu jatuhkan. Iya,
sakit. Tapi bukankah cinta itu ada untuk menyembuhkan? Dan kemudian atas
bimbingan cinta aku tersenyum.
"Tidak
apa."
Kamu tersenyum
memandangku. Menarik kepalaku rebah di bahumu. Terserah kalian mau berkata apa
tentangku. Gila, mungkin. Buta, bukankah setiap cinta memang buta? Jahat,
bagaimana bisa orang yang berjuang karena cinta disebut jahat? Aku akan
berusaha melewati semua ini. Selama aku dan kamu masih saling berjuang
mempertahankan kita, aku rasa ini akan mudah. Bukan begitu, Sayang? Tolong
katakan bahwa jawabannya, iya. Kamu pernah dengan khawatir takut aku akan
menyesali keputusanku. Mungkinkah aku akan menyesali keputusanku saat itu
adalah denganmu? Tidak.
Beberapa bulan
setelahnya aku mulai meragu. Terlebih saat melihat bukti kemesraanmu dengan
kekasihmu. Aku juga kekasihmu, Sayang. Aku tahu kamu adil dalam membagi
cintamu. Tapi kenapa tetap saja rasanya sakit. Belum lagi kerahasiaan hubungan
kita. Aku memang tidak perlu publikasi di depan semua orang. Karena hubungan
kita hanyalah tentang aku dan kamu. Bukan tentang aku dan orang lain atau kamu
dan orang lain. Tak bisakah aku memberitahu beberapa teman dekatku dan kamu memberitahu
beberapa teman dekatmu tentang kita? Aku lelah, Sayang. Bukan. Hatiku yang
lelah. Lelah terbakar cemburu saat melihatmu dengannya, berbagi kemesraan
dengannya, dan saling tertawa bahagia. Dan ketika beberapa orang akhirnya tahu
tentang kita, aku masih harus menghadapi cibiran dan tatapan mencerca mereka.
Mengatakan aku orang ketiga. Aku perusak hubunganmu dan kekasihmu. Kamu
tersenyum menguatkanku. Menggenggam tanganku supaya aku tidak rapuh. Tapi
sekarang aku sudah semakin lelah, Sayang. Bolehkah aku beristirahat sejenak dan
melepaskan genggaman ini? Aku berjanji tangan ini akan kamu genggam lagi. Saat
hatimu hanya milikku. Saat cintamu hanya untukku. Saat hanya akulah yang
satu-satunya menjadi kekasihmu.
-Orang yang
selalu menanti genggaman tanganmu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar