Sabtu, 02 November 2013

Aku (orang ketiga)

Awal aku mengenalnya masih biasa. Hanya sebatas rekan kerja. Memang kita sering berbicara berdua, jalan berdua, dan makan berdua. Tapi semua itu hanya karena urusan pekerjaan. Tidak lebih. Semua perbincangan selama makan dan jalan pun hanya sebatas tentang naik turun saham perusahaan. Ketika kamu dipindahtugaskan keluar kota pun aku hanya mengucapkan salam perpisahan sebagai teman biasa. Tetapi semua menjadi tidak biasa ketika aku dan kamu bertemu di dunia maya. Sering kita hanya saling bertanya kabar. Lain kalinya, kita bertukar cerita tentang keseharian kita. Dan akibatnya sekarang aku jadi terbiasa dengan sapaan dan ceritamu lewat sosial media yang dibatasi 140 karakter itu. Tidak cukup, aku dan kamu bertukar nomor telepon. Saling menyapa lewat saluran udara. Suara renyahmu sering menjadi pengantar tidurku di malam hari. Menemani dan mendengarkan cerita ku sampai larut. Dan ketika matahari mulai mengintip dari peraduannya, saat itulah suara mu juga yang menyapa membangunkanku. Setiap kamu melakukan itu seolah tiba-tiba ada yang menanam jutaan benih bunga di dalam hatiku yang dalam sekejap langsung tumbuh menjadi bunga warna-warni yang indah. Iya, aku tahu itu memang tidak mungkin. Tapi bukankah orang yang jatuh cinta memang selalu bisa memungkinkan semua yang tidak mungkin? Hei, apakah aku jatuh cinta? Iya, dan itu kepadamu, Sayang. Aku terbuai dengan perhatian dan cintamu yang melambungkanku entah sampai ke langit tingkat berapa. Aku tidak sempat menghitungnya karena terlalu sibuk memikirkanmu. Apa saat itu kamu juga memikirkanku, Sayang?

"Hei, bisa menengok keluar jendelamu sebentar?"
Saat itu masih sangat pagi. Bahkan matahari masih enggan menyibakkan selimutnya dan keluar dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih setengah tertutup aku berjalan menuju jendela kamarku dan membukanya. Udara pagi yang dingin dan bau embun segera mengirimkan impuls menuju otakku untuk membuat mataku terbuka lebar. Ah, jadi begini bau embun pagi segar. Aku menutup mataku kembali. Berusaha menikmati ketenangan pagi ini. Dan dibawah jendelaku kamu sudah siap dengan beberapa bunga yang entah kapan kamu siapkan. Aku tersenyum melihat untaian huruf yang dibentuk bunga-bunga itu. Segera aku mengambil telepon genggamku dan mengetikkan 4 kata dengan cepat "i love you too".
Aku merasa menjadi yang paling bahagia saat itu. Anganku kamu terbangkan semakin tinggi. Kamu buatku menjadi yang paling beruntung karena memilikimu. Sebuah anugerah yang tidak ternilai indahnya.

"Ada sesuatu yang sebenarnya belum aku katakan padamu. Aku...sudah mempunyai kekasih sebelummu."
Kebahagiaanku tidak berlangsung lama rupanya. Anganku tiba-tiba saja kamu jatuhkan. Iya, sakit. Tapi bukankah cinta itu ada untuk menyembuhkan? Dan kemudian atas bimbingan cinta aku tersenyum.
"Tidak apa."
Kamu tersenyum memandangku. Menarik kepalaku rebah di bahumu. Terserah kalian mau berkata apa tentangku. Gila, mungkin. Buta, bukankah setiap cinta memang buta? Jahat, bagaimana bisa orang yang berjuang karena cinta disebut jahat? Aku akan berusaha melewati semua ini. Selama aku dan kamu masih saling berjuang mempertahankan kita, aku rasa ini akan mudah. Bukan begitu, Sayang? Tolong katakan bahwa jawabannya, iya. Kamu pernah dengan khawatir takut aku akan menyesali keputusanku. Mungkinkah aku akan menyesali keputusanku saat itu adalah denganmu? Tidak.

Beberapa bulan setelahnya aku mulai meragu. Terlebih saat melihat bukti kemesraanmu dengan kekasihmu. Aku juga kekasihmu, Sayang. Aku tahu kamu adil dalam membagi cintamu. Tapi kenapa tetap saja rasanya sakit. Belum lagi kerahasiaan hubungan kita. Aku memang tidak perlu publikasi di depan semua orang. Karena hubungan kita hanyalah tentang aku dan kamu. Bukan tentang aku dan orang lain atau kamu dan orang lain. Tak bisakah aku memberitahu beberapa teman dekatku dan kamu memberitahu beberapa teman dekatmu tentang kita? Aku lelah, Sayang. Bukan. Hatiku yang lelah. Lelah terbakar cemburu saat melihatmu dengannya, berbagi kemesraan dengannya, dan saling tertawa bahagia. Dan ketika beberapa orang akhirnya tahu tentang kita, aku masih harus menghadapi cibiran dan tatapan mencerca mereka. Mengatakan aku orang ketiga. Aku perusak hubunganmu dan kekasihmu. Kamu tersenyum menguatkanku. Menggenggam tanganku supaya aku tidak rapuh. Tapi sekarang aku sudah semakin lelah, Sayang. Bolehkah aku beristirahat sejenak dan melepaskan genggaman ini? Aku berjanji tangan ini akan kamu genggam lagi. Saat hatimu hanya milikku. Saat cintamu hanya untukku. Saat hanya akulah yang satu-satunya menjadi kekasihmu.

-Orang yang selalu menanti genggaman tanganmu- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar