Sabtu, 03 November 2012

Terlambat

"Heeeh, ayo makan bareng" Arya menghampiriku siang itu dan menggamit lenganku. Menarikku menuju kantin. Dia menengok sekeliling. Berusaha menemukan bangku kosong diantara puluhan siswa-siswa yang datang ke kantin untuk men-charge perut mereka sebelum memulai belajar kembali.
"Nah, kita duduk di situ aja" Arya kembali menarik lenganku menuju bangku di pojok kantin.
"Iih, ini tuh sakit tauu" rengekku sambil berusaha menggapai kepalanya. Berniat menjitaknya. Tapi dengan tinggi badan 186cm dan tinggi ku yang hanya 153 cm, membuat tanganku bahkan sulit untuk mencapai puncak kepalanya.
"Wee, gak kena" Dia menjulurkan lidahnya mengejek.
Aku hanya merengut. Arya memang hobi mengerjaiku seperti itu.
"Kamu mau pesen apa? Biar aku yang pesenin. Kasihan kalo yang mesti desak-desakkan pesen makanan. Udah badan mungil" Arya kembali mengejek sambil tertawa.
Aku kembali merengut. Tadinya aku mau nekat memesan makanan sendiri. Tapi nyaliku ciut begitu melihat kerumunan anak-anak yang sedang mengantri memesan makanan.
"Kayak biasanya deh.." kataku pasrah.
Arya mengangguk sambil berlalu. Ku perhatikan dia disetiap langkahnya. Dengan tubuhnya yang jangkung itu dia pasti bisa dengan mudah menyerobot antrian di depannya. Dasar curang, aku mengejek dalam hati. Tapi bukan hanya itu yang membuatku memperhatikannya. Entah sejak kapan aku mulai memperhatikannya. Entah sejak kapan perasaanku kepadanya mulai berubah. Entah sejak kapan, si "Adik" menginginkan "Kakak" nya menjadi lebih dari seorang kakak. Ya, selama ini hubunganku dengan dia berjalan dengan baik. Layaknya sahabat yang sudah saling mengenal sangat lama. Layaknya kakak dan adik.
Pikiranku menerawang mengingat kata-kata Nawang minggu lalu.
"Udah, bilang aja kalo kamu suka sama dia. Toh selama ini juga dia selalu memberikan respon yang positif kan?"
"Tapi kan selama ini dia cuma nganggep aku ini adiknya. Gak lebih. Dan juga...hei, bukannya aku cewek? Mana ada cewek yang ngomong duluan."
"Sekarang ini udah era modern, Sha. Kalo kamu gak cepetan ngomong, keburu dia diambil orang, terus kamu gak kebagian cowok, terus kamu jadi jomblo seumur hidup. Hiiih, bayanginnya aja merinding, Sha."
"Iih, apaan sih kamu..."
"Heh, bengong" Arya mengibaskan tangannya di depan muka ku. "Tuh dimakan. Keburu dingin..."
"Ar, aku mau ngomong.."
"Ngomong apaan? Serius amat. Biasa aja kaliii. Aku juga mau ngomong nih."
Hatiku mencelos. Jangan-jangan apa yang bakal Arya omongin sama kayak apa yang bakal aku omongin, kataku dalam hati.
"Uhm, kalo gitu kamu dulu deh."
"Curaaang. Kan ladies first."
"Gak mau. Pokoknya yang tua dulu" Aku menjulurkan lidahku.
Arya tampak menimbang-nimbang. "Aku barusan jadian sama Janette. Hehe. Gak nyangka aja ya ternyata dia suka sama aku. Dia duluan lho yang ngomong kalo suka sama aku."
Pyarr. Seperti ada yang runtuh di dalam dadaku. Aku tersenyum kecut.
"Seriusan? Waah, makanan kali ini kamu dong yang mesti bayar" Aku berusaha tersenyum lebar.

"Enak aja. Uang saku mepet nih. Besok aja. Hehe. Tadi kamu mau ngomong apaan?"
Aku berusaha memasang tampang menggodanya. "Uhm, kasih tau gak yaa? Gak aja deh. Haha..."

Arya langsung melotot. Kedua tangannya langsung berusaha mengacak rambutku.
"Yee curang curaang... Apaan sih? Kasih tau dong. Pengen tau banget nih.. Ayo kasih tau dong..."
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar