“Lihat, bintang yg itu milikmu. Dan yg disebelahnya milikku”
Aku tersenyum. Ikut melihat bintang yg kau tunjuk.
Malam itu, lagi-lagi kami menghabiskan malam berdua. Melihat
bintang tanpa merasa bosan dan jenuh. Gelapnya malam bagi kami menyimpan sebuah
arti tersendiri. Dalam keheningan, langit seolah ikut berbicara.
Bintang-bintang itu, seolah sebagai media penyampai pesan dari masing-masing
hati kami.
Tapi, tiba-tiba pandanganku terasa kabur. Jangan sekarang, Tuhan. Jangan saat aku
sedang bersamanya.
Aku menutup mataku. Mengatur napasku yang mulai terasa sesak.
“Kenapa?”
Kamu menyentuh pelan dahiku.”Sakit? Mau aku antar pulang?”
Aku menggeleng lemah dan tersenyum. “Cuma kedinginan”
Dan kamu dengan sigap langsung melepaskan jaket kulit
kesayanganmu dan memakainya padaku. Sekejap, wangi parfum mu menyeruak. Aku
tersenyum dan merebahkan kepalaku di bahumu.
“Besok, aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini”
“Jangan mengatakan hal yang belum terjadi. Itu kuasa Tuhan.
Kita tidak boleh mengingkarinya”
Dan kamu memelukku seraya mengecup lembut ujung kepalaku.
Pelan aku terisak. Beruntung angin malam itu memang berhembus agak kencang.
Suara isak tangisku sedikit teredam olehnya.
***
Pagi itu aku terbangun dan melihat ruangan putih serta bau
yang sudah sangat ku kenal. Ah, lagi-lagi
rumah sakit.
Secara tiba-tiba, sakit itu melanda lagi. Tuhan, jika memang sekarang saatnya aku
sudah siap.
Aku menggenggam surat beramplop biru yang memang sudah
kusiapkan sebelumnya. Pandanganku kabur. Kesadaranku perlahan mulai menghilang.
Dari arah pintu aku masih bisa melihat sosokmu datang dengan tergopoh dan
kemudian berlari keluar. Tak lama, aku merasa orang-orang berbaju putih sudah
berada disekelilingku dan melakukan tindakan yang sesuai dengan prosedur untuk
menyelamatkanku. Aku semakin tidak sadar. Di kejauhan, aku seperti melihat
pintu yang bersinar putih. Aku tahu ke arah pintu itu lah aku seharusnya pergi
sekarang.
***
Aku bahagia pernah
mengenalmu
Kamu tahu, kamu adalah
surgaku
Saat kamu membaca
surat ini, mungkin aku memang sudah tidak ada
Tapi satu yang harus
kamu tahu
Aku tidak pernah
menyesal kalaupun aku harus mati
Karena, Tuhan sudah
memberikan kamu dan kesempatan untuk mengenalmu J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar