Sabtu, 15 September 2012

Lelaki (ku)


“Lihat, bintang yg itu milikmu. Dan yg disebelahnya milikku”
Aku tersenyum. Ikut melihat bintang yg kau tunjuk.
Malam itu, lagi-lagi kami menghabiskan malam berdua. Melihat bintang tanpa merasa bosan dan jenuh. Gelapnya malam bagi kami menyimpan sebuah arti tersendiri. Dalam keheningan, langit seolah ikut berbicara. Bintang-bintang itu, seolah sebagai media penyampai pesan dari masing-masing hati kami.
Tapi, tiba-tiba pandanganku terasa kabur. Jangan sekarang, Tuhan. Jangan saat aku sedang bersamanya.
Aku menutup mataku. Mengatur napasku yang mulai terasa sesak.
“Kenapa?”
Kamu menyentuh pelan dahiku.”Sakit? Mau aku antar pulang?”
Aku menggeleng lemah dan tersenyum. “Cuma kedinginan”
Dan kamu dengan sigap langsung melepaskan jaket kulit kesayanganmu dan memakainya padaku. Sekejap, wangi parfum mu menyeruak. Aku tersenyum dan merebahkan kepalaku di bahumu.
“Besok, aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini”
“Jangan mengatakan hal yang belum terjadi. Itu kuasa Tuhan. Kita tidak boleh mengingkarinya”
Dan kamu memelukku seraya mengecup lembut ujung kepalaku. Pelan aku terisak. Beruntung angin malam itu memang berhembus agak kencang. Suara isak tangisku sedikit teredam olehnya.
***
Pagi itu aku terbangun dan melihat ruangan putih serta bau yang sudah sangat ku kenal. Ah, lagi-lagi rumah sakit.
Secara tiba-tiba, sakit itu melanda lagi. Tuhan, jika memang sekarang saatnya aku sudah siap.
Aku menggenggam surat beramplop biru yang memang sudah kusiapkan sebelumnya. Pandanganku kabur. Kesadaranku perlahan mulai menghilang. Dari arah pintu aku masih bisa melihat sosokmu datang dengan tergopoh dan kemudian berlari keluar. Tak lama, aku merasa orang-orang berbaju putih sudah berada disekelilingku dan melakukan tindakan yang sesuai dengan prosedur untuk menyelamatkanku. Aku semakin tidak sadar. Di kejauhan, aku seperti melihat pintu yang bersinar putih. Aku tahu ke arah pintu itu lah aku seharusnya pergi sekarang.
***
Aku bahagia pernah mengenalmu
Kamu tahu, kamu adalah surgaku
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku memang sudah tidak ada
Tapi satu yang harus kamu tahu
Aku tidak pernah menyesal kalaupun aku harus mati
Karena, Tuhan sudah memberikan kamu dan kesempatan untuk mengenalmu J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar