Jumat, 01 November 2013

Senja (tanpamu)

Bagiku senja selalu indah. Meski itu tanpamu...

Aku masih mengingat desiran ombak berbuih putih, hembusan angin-angin yang nakal mengacak rambutku, pun butiran-butiran pasir putih di sela jemari kakiku. Kata-kata manismu, serasa baru kemarin sore. Lama aku terdiam. Semburat warna jingga senja bahkan tidak lebih indah dibandingkan rona merah di pipiku. Dan kemudian kamu tersenyum. Senyum yang ku suka. Kamu tau, Sayang? Saat itu aku merasa menjadi yang paling bahagia. Memilikimu dan senja ini. Bahagia itu sederhana, menurutku. Cukup dengan menikmati senja seperti ini denganmu. Berdua, di tepi danau di taman. Saling diam menikmati cara masing-masing mengagumi keindahan senja.
Tapi entah aku munafik atau hanya berpura-pura tidak tahu. Sebagianmu memang melengkapi sebagianku. Tetapi sebagianku tidak pernah melengkapi sebagianmu. Kilas matamu terlihat masih sangat mengharapkan sebagian darinya. Dan akan selalu seperti itu. Aku tahu ada bagian kecil dari hatimu yang kamu jaga untuknya. Tapi tidak bisakah kamu mulai menyerahkan bagian kecil tersebut kepadaku? Seperti kamu menyerahkan bagian yang lainnya. Sebenarnya aku juga tidak yakin bagian yang lainnya kamu peruntukkan untukku. Apakah kamu memang sebegitu besarnya mencintai dia, Sayang? Tidak bisakah kamu melihatku yang nyata ada di depanmu?
"Maaf sudah pernah memaksamu masuk dalam kehidupanku. Aku seharusnya tau bagaimana hatimu.”
"Aku yang menginginkanmu. Jangan pernah berkata seperti itu"
Pelan aku menggeleng. “Aku tidak akan pernah bisa menggantikan dia, kan?”
Dan kamu tersenyum. Haru. Pelan kamu membelai rambutku dan merengkuhku dalam pelukmu."Maaf..."
“Pergilah. Jemput sebagianmu itu.”
            Kamu tersenyum lagi. Masih senyum yang aku suka. Masih sorot mata yang aku suka juga. Semua bagian darimu semuanya aku suka. Yang aku tidak suka adalah hatimu yang lebih memilih dia. Kamu tahu, Sayang? Sakit harus menyuruhmu pergi seperti ini. Tapi lebih sakit lagi apabila aku hanya berjuang sendiri diantara kita. Bolehkah aku tetap menunggumu disini bersama senjaku? Siapa tahu suatu saat nanti kamu akan berbalik dan menemuiku. Dan pada saat itu, aku hanya berharap genapku lah yang akan melengkapi ganjilmu.

-Dariku, yang akan selalu menunggumu berbalik-

Inspired by: The Man Who Can’t Be Moved – The Script



Tidak ada komentar:

Posting Komentar