Bagiku senja selalu indah. Meski itu tanpamu...
Aku masih mengingat desiran ombak
berbuih putih, hembusan angin-angin yang nakal mengacak rambutku, pun
butiran-butiran pasir putih di sela jemari kakiku. Kata-kata manismu, serasa
baru kemarin sore. Lama aku terdiam. Semburat warna jingga senja bahkan tidak
lebih indah dibandingkan rona merah di pipiku. Dan kemudian kamu tersenyum.
Senyum yang ku suka. Kamu tau, Sayang? Saat itu aku merasa menjadi yang paling
bahagia. Memilikimu dan senja ini. Bahagia itu sederhana, menurutku. Cukup
dengan menikmati senja seperti ini denganmu. Berdua, di tepi danau di taman.
Saling diam menikmati cara masing-masing mengagumi keindahan senja.
Tapi entah aku munafik atau hanya
berpura-pura tidak tahu. Sebagianmu memang melengkapi sebagianku. Tetapi
sebagianku tidak pernah melengkapi sebagianmu. Kilas matamu terlihat masih
sangat mengharapkan sebagian darinya. Dan akan selalu seperti itu. Aku tahu ada
bagian kecil dari hatimu yang kamu jaga untuknya. Tapi tidak bisakah kamu mulai
menyerahkan bagian kecil tersebut kepadaku? Seperti kamu menyerahkan bagian
yang lainnya. Sebenarnya aku juga tidak yakin bagian yang lainnya kamu
peruntukkan untukku. Apakah kamu memang sebegitu besarnya mencintai dia,
Sayang? Tidak bisakah kamu melihatku yang nyata ada di depanmu?
"Maaf sudah pernah memaksamu masuk dalam kehidupanku. Aku seharusnya
tau bagaimana hatimu.”
"Aku yang menginginkanmu. Jangan pernah berkata seperti
itu"
Pelan aku menggeleng. “Aku tidak akan
pernah bisa menggantikan dia, kan?”
Dan kamu tersenyum. Haru. Pelan kamu
membelai rambutku dan merengkuhku dalam pelukmu."Maaf..."
“Pergilah. Jemput sebagianmu itu.”
Kamu tersenyum
lagi. Masih senyum yang aku suka. Masih sorot mata yang aku suka juga. Semua
bagian darimu semuanya aku suka. Yang aku tidak suka adalah hatimu yang lebih
memilih dia. Kamu tahu, Sayang? Sakit harus menyuruhmu pergi seperti ini. Tapi
lebih sakit lagi apabila aku hanya berjuang sendiri diantara kita. Bolehkah aku
tetap menunggumu disini bersama senjaku? Siapa tahu suatu saat nanti kamu akan
berbalik dan menemuiku. Dan pada saat itu, aku hanya berharap genapku lah yang
akan melengkapi ganjilmu.
-Dariku, yang akan selalu menunggumu
berbalik-
Inspired by: The Man Who Can’t Be Moved
– The Script
Tidak ada komentar:
Posting Komentar