Kamis, 24 Oktober 2013

Untukmu (yang sempat singgah di hatiku)

Kata orang menunggu itu menjemukan. Bagiku tidak. Menunggumu adalah sesuatu yang sangat kunikmati. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari. Aku menikmati waktu-waktu menunggumu kembali pulang. Berbalik dan berjalan ke arahku. Aku tidak akan bosan menjadi orang yang kamu punggungi saat kamu tertawa bersamanya. Selama kamu masih mengingat jalan pulang dan masih mengingat kapan waktu untuk pulang.
"Hei, sendirian? Boleh duduk?" sapa seorang lelaki berkulit sawo matang dengan postur tinggi, rambut berantakan, dan mata cokelat cemerlang.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Pandanganku tidak lepas dari laptop di depanku. Sambil sesekali melirik ke arah jendela yang dipenuhi titik-titik air sisa hujan tadi. Entah kenapa pemandangan jendela besar di salah satu sudut perpustakaan yang dipenuhi dengan titik air sisa hujan menjadi favoritku. Bagiku, belum ada yang bisa mengalahkan keindahan pemandangan tersebut. Sering aku menghabiskan waktu berjam-jam di musim hujan seperti ini hanya untuk menunggu jendela besar didepanku dipenuhi oleh titik air sisa hujan.
Langit di luar masih mendung. Tapi tidak dengan suasana hatiku. Jemari ku masih lincah menari-nari diatas keyboard. Suasana seperti ini yang selalu membuatku bersemangat untuk menghasilkan untaian kata-kata untuk novelku. Terkadang aku menyesap kopi ku yang sudah dingin. Aku bahkan sama sekali tidak menghiraukan lelaki yang sedari tadi duduk di sebelahku. Sampai ada sesuatu yang hangat menempel di punggung tanganku. Aku menoleh dan melihat lelaki tersebut tersenyum.
"Kopi mu sudah dingin" dia menyorongkan gelas berisi kopi lainnya ke arahku.
Aku tersenyum membalas. "Makasih.."
"Baca holmes juga?" dia melirik 2 buku karangan Sir Arthur Conan Doyle di sebelah laptopku.
Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
"Kasus mana yang paling kamu suka?"
Aku berpikir sejenak. Memilah dan menimbang kasus mana yang paling membuatku penasaran.
"Gambar orang menari" akhirnya aku memantapkan jawabanku.
"Aah.. kasus dimana Holmes harus memecahkan kode-kode yang digambar dengan gambar orang menari itu"
Obrolan kami selanjutnya terus mengalir membicarakan Holmes, tokoh detektif paling berpengaruh di London abad 19. Aku bahkan baru mengenalnya. Dan seolah merasa sudah mengenalnya lama. Entahlah, bukankah terkadang perasaan seperti itu terkadang muncul disaat kita merasa cocok dengan seseorang? (hei, aku bahkan baru bertemu sekali dengannya hari ini). Semenjak itu, kita sering menghabiskan detik demi detik yang berharga di sudut perpustakaan favoritku ini. Entah itu untuk mendiskusikan Holmes, membaca buku bersama, atau hanya sekedar obrolan ringan tentang keseharian kita. Hal kecil seperti itu membuatku seperti seorang remaja yang sedang dimabuk cinta. Apakah kamu juga merasakan itu, Sayang?
Sekarang aku punya dua hal yang aku tunggu di sudut perpustakaan ini. Titik air sisa hujan di jendela dan…kamu. Beberapa bulan berlalu sejak hari itu. Sampai saat ini kamu dan titik air sisa hujan masih aku tunggu. Menikmati setiap detik penantian menjadi candu bagiku. Penawar rasa rinduku. Terkadang dalam penantian aku sering bertanya-tanya kapan aku dan kamu akan menjadi kita?
            Sore itu, aku duduk di tempat favorit kita. Tidak mengetik di laptopku, tidak membaca buku, tidak melakukan apapun. Aku hanya memandangi air yang mengalir di jendela besar. Bertanya kapan aliran air itu akan menjadi titik-titik. Bertanya kapan kamu akan muncul.
"Hei..." suara yg sangat ku kenal selama beberapa bulan ini kembali menyapa. Aku menoleh. Sedikit kaget dan…kecewa. Ada wanita lain di sebelahmu.
"Ini tunanganku” kamu memperkenalkan wanita cantik berlesung pipit di sebelahmu itu.
Aku tersenyum. Menjadi seorang penulis merupakan keuntungan bagiku. Aku dilatih untuk bisa mengendalikan emosi yang akan ku tuang ke dalam tulisanku. Pun seperti saat ini. Aku mengendalikan emosiku agar tidak meluap dan berusaha bersikap biasa.
            Tidak lama tunangan-cantik-berlesung-pipit itu bersama kami. Dia harus mencari beberapa buku yang akan dijadikan sebagai referensi artikelnya (oh pekerjaannya adalah seorang wartawan). Dan aku, seperti biasa membicarakan kasus-kasus Holmes dengannya tanpa tahu kasus yang sedang terjadi dalam hatiku. Begitulah ternyata. Aku hanya tempatmu berkeluh kesah, berbagi pikiran, berbagi ide, tapi tidak berbagi cinta. Aku hanya akan menjadi orang yang selalu kamu punggungi saat kamu tersenyum bersamanya. Aku hanya akan menjadi orang yang selalu menunggumu berbalik arah menatapku. Aku… orang yang jatuh cinta diam-diam.
            Selang beberapa saat tunangan-cantik-berlesung-pipit datang dengan membawa beberapa buku tebal dan mengajakmu pulang. Tepat saat tunangan-cantik-berlesung-pipit berbalik keluar, kamu mengacak rambutku. Seperti yang biasa kamu lakukan. Ah, aku selalu suka caramu mengacak rambutku. Bahkan aku sekarang sudah terbiasa tidur dengan ucapan "selamat malam" dan bangun dengan ucapan "selamat pagi" darimu. Tapi kini aku menyadari, ini adalah penantian terakhirku untukmu. Sia-sia menunggu orang yang bahkan tidak akan menatapmu, tidak akan berbalik, dan tidak akan berjalan ke arahmu. Mulai saat ini aku hanya harus membiasakan diri dan hatiku. Membiasakan diri supaya tidak menunggumu lagi, tidak menunggu ucapan "selamat malam" dan "selamat pagi" darimu. Juga membiasakan hatiku untuk tidak merindukanmu. Sekarang hanya ada satu yang harus ku tunggu. Titik air sisa hujan yang akan dan selalu menempel di jendela.


-Dari ku, orang yang jatuh cinta diam-diam-


Inspired by: Cinta yang tak mungkin – Elyzia Mulachela (Ost. Perahu Kertas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar