Kata orang menunggu itu
menjemukan. Bagiku tidak. Menunggumu adalah sesuatu yang sangat kunikmati.
Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari. Aku menikmati waktu-waktu
menunggumu kembali pulang. Berbalik dan berjalan ke arahku. Aku tidak akan
bosan menjadi orang yang kamu punggungi saat kamu tertawa bersamanya. Selama
kamu masih mengingat jalan pulang dan masih mengingat kapan waktu untuk pulang.
"Hei, sendirian? Boleh duduk?" sapa
seorang lelaki berkulit sawo matang dengan postur tinggi, rambut berantakan, dan
mata cokelat cemerlang.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Pandanganku tidak lepas dari laptop di depanku. Sambil sesekali melirik ke arah
jendela yang dipenuhi titik-titik air sisa hujan tadi. Entah kenapa pemandangan
jendela besar di salah satu sudut perpustakaan yang dipenuhi dengan titik air
sisa hujan menjadi favoritku. Bagiku, belum ada yang bisa mengalahkan keindahan
pemandangan tersebut. Sering aku menghabiskan waktu berjam-jam di musim hujan
seperti ini hanya untuk menunggu jendela besar didepanku dipenuhi oleh titik
air sisa hujan.
Langit di luar masih mendung.
Tapi tidak dengan suasana hatiku. Jemari ku masih lincah menari-nari diatas
keyboard. Suasana seperti ini yang selalu membuatku bersemangat untuk
menghasilkan untaian kata-kata untuk novelku. Terkadang aku menyesap kopi ku
yang sudah dingin. Aku bahkan sama sekali tidak menghiraukan lelaki yang sedari
tadi duduk di sebelahku. Sampai ada sesuatu yang hangat menempel di punggung
tanganku. Aku menoleh dan melihat lelaki tersebut tersenyum.
"Kopi mu sudah dingin" dia menyorongkan
gelas berisi kopi lainnya ke arahku.
Aku tersenyum membalas.
"Makasih.."
"Baca holmes juga?" dia melirik 2 buku
karangan Sir Arthur Conan Doyle di sebelah laptopku.
Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
"Kasus mana yang paling kamu suka?"
Aku berpikir sejenak. Memilah dan
menimbang kasus mana yang paling membuatku penasaran.
"Gambar orang menari" akhirnya aku
memantapkan jawabanku.
"Aah.. kasus dimana Holmes harus memecahkan
kode-kode yang digambar dengan gambar orang menari itu"
Obrolan kami selanjutnya terus
mengalir membicarakan Holmes, tokoh detektif paling berpengaruh di London abad
19. Aku bahkan baru mengenalnya. Dan seolah merasa sudah mengenalnya lama. Entahlah,
bukankah terkadang perasaan seperti itu terkadang muncul disaat kita merasa
cocok dengan seseorang? (hei, aku bahkan
baru bertemu sekali dengannya hari ini). Semenjak itu, kita sering
menghabiskan detik demi detik yang berharga di sudut perpustakaan favoritku
ini. Entah itu untuk mendiskusikan Holmes, membaca buku bersama, atau hanya
sekedar obrolan ringan tentang keseharian kita. Hal kecil seperti itu membuatku
seperti seorang remaja yang sedang dimabuk cinta. Apakah kamu juga merasakan
itu, Sayang?
Sekarang aku punya dua hal yang
aku tunggu di sudut perpustakaan ini. Titik air sisa hujan di jendela dan…kamu.
Beberapa bulan berlalu sejak hari itu. Sampai saat ini kamu dan titik air sisa
hujan masih aku tunggu. Menikmati setiap detik penantian menjadi candu bagiku.
Penawar rasa rinduku. Terkadang dalam penantian aku sering bertanya-tanya kapan
aku dan kamu akan menjadi kita?
Sore
itu, aku duduk di tempat favorit kita. Tidak mengetik di laptopku, tidak membaca
buku, tidak melakukan apapun. Aku hanya memandangi air yang mengalir di jendela
besar. Bertanya kapan aliran air itu akan menjadi titik-titik. Bertanya kapan
kamu akan muncul.
"Hei..." suara yg sangat ku kenal selama
beberapa bulan ini kembali menyapa. Aku menoleh. Sedikit kaget dan…kecewa. Ada wanita
lain di sebelahmu.
"Ini tunanganku” kamu memperkenalkan wanita
cantik berlesung pipit di sebelahmu itu.
Aku tersenyum. Menjadi seorang
penulis merupakan keuntungan bagiku. Aku dilatih untuk bisa mengendalikan emosi
yang akan ku tuang ke dalam tulisanku. Pun seperti saat ini. Aku mengendalikan
emosiku agar tidak meluap dan berusaha bersikap biasa.
Tidak
lama tunangan-cantik-berlesung-pipit itu bersama kami. Dia harus mencari
beberapa buku yang akan dijadikan sebagai referensi artikelnya (oh pekerjaannya adalah seorang wartawan).
Dan aku, seperti biasa membicarakan kasus-kasus Holmes dengannya tanpa tahu
kasus yang sedang terjadi dalam hatiku. Begitulah ternyata. Aku hanya tempatmu
berkeluh kesah, berbagi pikiran, berbagi ide, tapi tidak berbagi cinta. Aku
hanya akan menjadi orang yang selalu kamu punggungi saat kamu tersenyum
bersamanya. Aku hanya akan menjadi orang yang selalu menunggumu berbalik arah
menatapku. Aku… orang yang jatuh cinta diam-diam.
Selang
beberapa saat tunangan-cantik-berlesung-pipit datang dengan membawa beberapa
buku tebal dan mengajakmu pulang. Tepat saat tunangan-cantik-berlesung-pipit
berbalik keluar, kamu mengacak rambutku. Seperti yang biasa kamu lakukan. Ah,
aku selalu suka caramu mengacak rambutku. Bahkan aku sekarang sudah terbiasa
tidur dengan ucapan "selamat malam" dan bangun dengan ucapan
"selamat pagi" darimu. Tapi kini aku menyadari, ini adalah penantian
terakhirku untukmu. Sia-sia menunggu orang yang bahkan tidak akan menatapmu,
tidak akan berbalik, dan tidak akan berjalan ke arahmu. Mulai saat ini aku
hanya harus membiasakan diri dan hatiku. Membiasakan diri supaya tidak
menunggumu lagi, tidak menunggu ucapan "selamat malam" dan
"selamat pagi" darimu. Juga membiasakan hatiku untuk tidak
merindukanmu. Sekarang hanya ada satu yang harus ku tunggu. Titik air sisa
hujan yang akan dan selalu menempel di jendela.
-Dari
ku, orang yang jatuh cinta diam-diam-
Inspired by: Cinta
yang tak mungkin – Elyzia Mulachela (Ost. Perahu Kertas)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar