Minggu, 03 November 2013

Aku (orang kedua)

Aku duduk termenung di balkon kamar lantai dua ku sore itu. Memandang cincin yang sudah setahun belakangan ini melingkar dengan tenang di jari manis kiriku. Aku tersenyum mengingat semuanya. Hari itu mendung. Tapi kamu kukuh mengajakku menikmati bangunnya matahari dari tidurnya. Ketika orang lain lebih suka menikmati semburat hangat senja, kenapa kamu malah lebih memilih dinginnya fajar, Sayang? Itu yang membuatmu berbeda. Itu yang membuatku jatuh untukmu. Lama kita menunggu merah matahari muncul di ufuk timur. Sembari bermain-main dengan embun yamg dinginnya menyentuh ujung jemari kaki telanjangku. Aku pikir kamu sudah menyerah menunggu mentari mu. Saat kamu mengeluarkan kotak hitam kecil dari balik saku kemejamu.

"Kamulah matahari yang aku tunggu muncul. Untuk menghangatkan dan menerangiku."
Kamu tersenyum sembari menyematkan cincin perak bermata kecil dari kotak hitam kecil. Kamu begitu konsisten, Sayang. Entah itu pernyataan cintamu dulu atau lamaranmu yang sekarang. Tanpa berpanjang kata kamu langsung menyampaikan intinya. Hal itu juga yang aku suka.

Selesai mengamati cincin di jari manisku aku melirik tumpukan foto di meja kecil sebelah tempatku duduk sekarang. Fotomu dengan dia. Kamu pikir aku tidak tahu, Sayang? Ketika bahkan kamu bermain dengan gadissephia mu itu. Entah apa yang kalian pikirkan saat itu. Apa kurangnya aku dan apa lebihnya dia? Belum cukupkah cinta yang aku beri selama ini sampai tega kamu mencari cinta yang lainnya? Perempuan itu, bukankah dia sama sepertiku? Sebagai sesama kaum hawa tidakkah dia pernah berpikir bagaimana dia saat ada diposisiku? Sakit, iya. Marah, sangat. Aku merasa seperti keledai yang bisa kalian bodohi. Terjawab sudah tanyaku beberapa waktu ini. Kemanakah kamu saat perayaan hari jadi pertunangan kita dua hari lalu? Meeting? Iya, dengan perempuan itu, bukan? Pergi kemana setiap perhatian dan waktumu yang biasanya hanya kamu limpahkan padaku? Siapa lagi kalau bukan perempuan itu. Dia memang cantik. Tapi bukankah aku juga tidak kalah cantik. Dan kenapa kalian sebegini terlihat mesra difoto? Karena dia kekasihmu? Aku juga kekasihmu dan tidak pernah kamu sebegini mesranya. Katakan apakah perempuan itu yang menggodamu, Sayang? Pasti iya. Aku tahu kamu tidak akan jatuh semudah itu. Tapi kenapa? Apa yang telah perempuan itu lakukan padamu?

Tanpa terasa air mataku mengaliri kedua sudut mataku. Terlebih saat aku harus dengan terpaksa melepas cincin darimu. Untuk apa aku masih mengenakannya disaat cintamu bahkan sudah tidak utuh untukku lagi. Sudahkah kamu memberikan perempuan itu cincin yang serupa, Sayang? Aku mengedipkan mataku. Mencegah air mataku tidak meluap. Karena ini terlalu berharga hanya untuk menangisi kalian. Ketika kamu merengek mempertahankanku, aku dengan tegas berkata tidak. Bahkan keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali, bukan?

Tuhan, lumpuhkanlah ingatanku tentang dia. Hapuskanlah semuanya. Ketika hanya satu orang saja yang bertahan berjuang untuk menjadi kita, bukankah jalan terbaik adalah melepaskan?

-orang yang berusaha melangkah dari curamnya masa lalu-

Inspired by: Lumpuhkan ingatanku - Geisha.

Sabtu, 02 November 2013

Aku (orang ketiga)

Awal aku mengenalnya masih biasa. Hanya sebatas rekan kerja. Memang kita sering berbicara berdua, jalan berdua, dan makan berdua. Tapi semua itu hanya karena urusan pekerjaan. Tidak lebih. Semua perbincangan selama makan dan jalan pun hanya sebatas tentang naik turun saham perusahaan. Ketika kamu dipindahtugaskan keluar kota pun aku hanya mengucapkan salam perpisahan sebagai teman biasa. Tetapi semua menjadi tidak biasa ketika aku dan kamu bertemu di dunia maya. Sering kita hanya saling bertanya kabar. Lain kalinya, kita bertukar cerita tentang keseharian kita. Dan akibatnya sekarang aku jadi terbiasa dengan sapaan dan ceritamu lewat sosial media yang dibatasi 140 karakter itu. Tidak cukup, aku dan kamu bertukar nomor telepon. Saling menyapa lewat saluran udara. Suara renyahmu sering menjadi pengantar tidurku di malam hari. Menemani dan mendengarkan cerita ku sampai larut. Dan ketika matahari mulai mengintip dari peraduannya, saat itulah suara mu juga yang menyapa membangunkanku. Setiap kamu melakukan itu seolah tiba-tiba ada yang menanam jutaan benih bunga di dalam hatiku yang dalam sekejap langsung tumbuh menjadi bunga warna-warni yang indah. Iya, aku tahu itu memang tidak mungkin. Tapi bukankah orang yang jatuh cinta memang selalu bisa memungkinkan semua yang tidak mungkin? Hei, apakah aku jatuh cinta? Iya, dan itu kepadamu, Sayang. Aku terbuai dengan perhatian dan cintamu yang melambungkanku entah sampai ke langit tingkat berapa. Aku tidak sempat menghitungnya karena terlalu sibuk memikirkanmu. Apa saat itu kamu juga memikirkanku, Sayang?

"Hei, bisa menengok keluar jendelamu sebentar?"
Saat itu masih sangat pagi. Bahkan matahari masih enggan menyibakkan selimutnya dan keluar dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih setengah tertutup aku berjalan menuju jendela kamarku dan membukanya. Udara pagi yang dingin dan bau embun segera mengirimkan impuls menuju otakku untuk membuat mataku terbuka lebar. Ah, jadi begini bau embun pagi segar. Aku menutup mataku kembali. Berusaha menikmati ketenangan pagi ini. Dan dibawah jendelaku kamu sudah siap dengan beberapa bunga yang entah kapan kamu siapkan. Aku tersenyum melihat untaian huruf yang dibentuk bunga-bunga itu. Segera aku mengambil telepon genggamku dan mengetikkan 4 kata dengan cepat "i love you too".
Aku merasa menjadi yang paling bahagia saat itu. Anganku kamu terbangkan semakin tinggi. Kamu buatku menjadi yang paling beruntung karena memilikimu. Sebuah anugerah yang tidak ternilai indahnya.

"Ada sesuatu yang sebenarnya belum aku katakan padamu. Aku...sudah mempunyai kekasih sebelummu."
Kebahagiaanku tidak berlangsung lama rupanya. Anganku tiba-tiba saja kamu jatuhkan. Iya, sakit. Tapi bukankah cinta itu ada untuk menyembuhkan? Dan kemudian atas bimbingan cinta aku tersenyum.
"Tidak apa."
Kamu tersenyum memandangku. Menarik kepalaku rebah di bahumu. Terserah kalian mau berkata apa tentangku. Gila, mungkin. Buta, bukankah setiap cinta memang buta? Jahat, bagaimana bisa orang yang berjuang karena cinta disebut jahat? Aku akan berusaha melewati semua ini. Selama aku dan kamu masih saling berjuang mempertahankan kita, aku rasa ini akan mudah. Bukan begitu, Sayang? Tolong katakan bahwa jawabannya, iya. Kamu pernah dengan khawatir takut aku akan menyesali keputusanku. Mungkinkah aku akan menyesali keputusanku saat itu adalah denganmu? Tidak.

Beberapa bulan setelahnya aku mulai meragu. Terlebih saat melihat bukti kemesraanmu dengan kekasihmu. Aku juga kekasihmu, Sayang. Aku tahu kamu adil dalam membagi cintamu. Tapi kenapa tetap saja rasanya sakit. Belum lagi kerahasiaan hubungan kita. Aku memang tidak perlu publikasi di depan semua orang. Karena hubungan kita hanyalah tentang aku dan kamu. Bukan tentang aku dan orang lain atau kamu dan orang lain. Tak bisakah aku memberitahu beberapa teman dekatku dan kamu memberitahu beberapa teman dekatmu tentang kita? Aku lelah, Sayang. Bukan. Hatiku yang lelah. Lelah terbakar cemburu saat melihatmu dengannya, berbagi kemesraan dengannya, dan saling tertawa bahagia. Dan ketika beberapa orang akhirnya tahu tentang kita, aku masih harus menghadapi cibiran dan tatapan mencerca mereka. Mengatakan aku orang ketiga. Aku perusak hubunganmu dan kekasihmu. Kamu tersenyum menguatkanku. Menggenggam tanganku supaya aku tidak rapuh. Tapi sekarang aku sudah semakin lelah, Sayang. Bolehkah aku beristirahat sejenak dan melepaskan genggaman ini? Aku berjanji tangan ini akan kamu genggam lagi. Saat hatimu hanya milikku. Saat cintamu hanya untukku. Saat hanya akulah yang satu-satunya menjadi kekasihmu.

-Orang yang selalu menanti genggaman tanganmu- 

Jumat, 01 November 2013

Senja (tanpamu)

Bagiku senja selalu indah. Meski itu tanpamu...

Aku masih mengingat desiran ombak berbuih putih, hembusan angin-angin yang nakal mengacak rambutku, pun butiran-butiran pasir putih di sela jemari kakiku. Kata-kata manismu, serasa baru kemarin sore. Lama aku terdiam. Semburat warna jingga senja bahkan tidak lebih indah dibandingkan rona merah di pipiku. Dan kemudian kamu tersenyum. Senyum yang ku suka. Kamu tau, Sayang? Saat itu aku merasa menjadi yang paling bahagia. Memilikimu dan senja ini. Bahagia itu sederhana, menurutku. Cukup dengan menikmati senja seperti ini denganmu. Berdua, di tepi danau di taman. Saling diam menikmati cara masing-masing mengagumi keindahan senja.
Tapi entah aku munafik atau hanya berpura-pura tidak tahu. Sebagianmu memang melengkapi sebagianku. Tetapi sebagianku tidak pernah melengkapi sebagianmu. Kilas matamu terlihat masih sangat mengharapkan sebagian darinya. Dan akan selalu seperti itu. Aku tahu ada bagian kecil dari hatimu yang kamu jaga untuknya. Tapi tidak bisakah kamu mulai menyerahkan bagian kecil tersebut kepadaku? Seperti kamu menyerahkan bagian yang lainnya. Sebenarnya aku juga tidak yakin bagian yang lainnya kamu peruntukkan untukku. Apakah kamu memang sebegitu besarnya mencintai dia, Sayang? Tidak bisakah kamu melihatku yang nyata ada di depanmu?
"Maaf sudah pernah memaksamu masuk dalam kehidupanku. Aku seharusnya tau bagaimana hatimu.”
"Aku yang menginginkanmu. Jangan pernah berkata seperti itu"
Pelan aku menggeleng. “Aku tidak akan pernah bisa menggantikan dia, kan?”
Dan kamu tersenyum. Haru. Pelan kamu membelai rambutku dan merengkuhku dalam pelukmu."Maaf..."
“Pergilah. Jemput sebagianmu itu.”
            Kamu tersenyum lagi. Masih senyum yang aku suka. Masih sorot mata yang aku suka juga. Semua bagian darimu semuanya aku suka. Yang aku tidak suka adalah hatimu yang lebih memilih dia. Kamu tahu, Sayang? Sakit harus menyuruhmu pergi seperti ini. Tapi lebih sakit lagi apabila aku hanya berjuang sendiri diantara kita. Bolehkah aku tetap menunggumu disini bersama senjaku? Siapa tahu suatu saat nanti kamu akan berbalik dan menemuiku. Dan pada saat itu, aku hanya berharap genapku lah yang akan melengkapi ganjilmu.

-Dariku, yang akan selalu menunggumu berbalik-

Inspired by: The Man Who Can’t Be Moved – The Script



Kamis, 24 Oktober 2013

Untukmu (yang sempat singgah di hatiku)

Kata orang menunggu itu menjemukan. Bagiku tidak. Menunggumu adalah sesuatu yang sangat kunikmati. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari. Aku menikmati waktu-waktu menunggumu kembali pulang. Berbalik dan berjalan ke arahku. Aku tidak akan bosan menjadi orang yang kamu punggungi saat kamu tertawa bersamanya. Selama kamu masih mengingat jalan pulang dan masih mengingat kapan waktu untuk pulang.
"Hei, sendirian? Boleh duduk?" sapa seorang lelaki berkulit sawo matang dengan postur tinggi, rambut berantakan, dan mata cokelat cemerlang.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Pandanganku tidak lepas dari laptop di depanku. Sambil sesekali melirik ke arah jendela yang dipenuhi titik-titik air sisa hujan tadi. Entah kenapa pemandangan jendela besar di salah satu sudut perpustakaan yang dipenuhi dengan titik air sisa hujan menjadi favoritku. Bagiku, belum ada yang bisa mengalahkan keindahan pemandangan tersebut. Sering aku menghabiskan waktu berjam-jam di musim hujan seperti ini hanya untuk menunggu jendela besar didepanku dipenuhi oleh titik air sisa hujan.
Langit di luar masih mendung. Tapi tidak dengan suasana hatiku. Jemari ku masih lincah menari-nari diatas keyboard. Suasana seperti ini yang selalu membuatku bersemangat untuk menghasilkan untaian kata-kata untuk novelku. Terkadang aku menyesap kopi ku yang sudah dingin. Aku bahkan sama sekali tidak menghiraukan lelaki yang sedari tadi duduk di sebelahku. Sampai ada sesuatu yang hangat menempel di punggung tanganku. Aku menoleh dan melihat lelaki tersebut tersenyum.
"Kopi mu sudah dingin" dia menyorongkan gelas berisi kopi lainnya ke arahku.
Aku tersenyum membalas. "Makasih.."
"Baca holmes juga?" dia melirik 2 buku karangan Sir Arthur Conan Doyle di sebelah laptopku.
Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
"Kasus mana yang paling kamu suka?"
Aku berpikir sejenak. Memilah dan menimbang kasus mana yang paling membuatku penasaran.
"Gambar orang menari" akhirnya aku memantapkan jawabanku.
"Aah.. kasus dimana Holmes harus memecahkan kode-kode yang digambar dengan gambar orang menari itu"
Obrolan kami selanjutnya terus mengalir membicarakan Holmes, tokoh detektif paling berpengaruh di London abad 19. Aku bahkan baru mengenalnya. Dan seolah merasa sudah mengenalnya lama. Entahlah, bukankah terkadang perasaan seperti itu terkadang muncul disaat kita merasa cocok dengan seseorang? (hei, aku bahkan baru bertemu sekali dengannya hari ini). Semenjak itu, kita sering menghabiskan detik demi detik yang berharga di sudut perpustakaan favoritku ini. Entah itu untuk mendiskusikan Holmes, membaca buku bersama, atau hanya sekedar obrolan ringan tentang keseharian kita. Hal kecil seperti itu membuatku seperti seorang remaja yang sedang dimabuk cinta. Apakah kamu juga merasakan itu, Sayang?
Sekarang aku punya dua hal yang aku tunggu di sudut perpustakaan ini. Titik air sisa hujan di jendela dan…kamu. Beberapa bulan berlalu sejak hari itu. Sampai saat ini kamu dan titik air sisa hujan masih aku tunggu. Menikmati setiap detik penantian menjadi candu bagiku. Penawar rasa rinduku. Terkadang dalam penantian aku sering bertanya-tanya kapan aku dan kamu akan menjadi kita?
            Sore itu, aku duduk di tempat favorit kita. Tidak mengetik di laptopku, tidak membaca buku, tidak melakukan apapun. Aku hanya memandangi air yang mengalir di jendela besar. Bertanya kapan aliran air itu akan menjadi titik-titik. Bertanya kapan kamu akan muncul.
"Hei..." suara yg sangat ku kenal selama beberapa bulan ini kembali menyapa. Aku menoleh. Sedikit kaget dan…kecewa. Ada wanita lain di sebelahmu.
"Ini tunanganku” kamu memperkenalkan wanita cantik berlesung pipit di sebelahmu itu.
Aku tersenyum. Menjadi seorang penulis merupakan keuntungan bagiku. Aku dilatih untuk bisa mengendalikan emosi yang akan ku tuang ke dalam tulisanku. Pun seperti saat ini. Aku mengendalikan emosiku agar tidak meluap dan berusaha bersikap biasa.
            Tidak lama tunangan-cantik-berlesung-pipit itu bersama kami. Dia harus mencari beberapa buku yang akan dijadikan sebagai referensi artikelnya (oh pekerjaannya adalah seorang wartawan). Dan aku, seperti biasa membicarakan kasus-kasus Holmes dengannya tanpa tahu kasus yang sedang terjadi dalam hatiku. Begitulah ternyata. Aku hanya tempatmu berkeluh kesah, berbagi pikiran, berbagi ide, tapi tidak berbagi cinta. Aku hanya akan menjadi orang yang selalu kamu punggungi saat kamu tersenyum bersamanya. Aku hanya akan menjadi orang yang selalu menunggumu berbalik arah menatapku. Aku… orang yang jatuh cinta diam-diam.
            Selang beberapa saat tunangan-cantik-berlesung-pipit datang dengan membawa beberapa buku tebal dan mengajakmu pulang. Tepat saat tunangan-cantik-berlesung-pipit berbalik keluar, kamu mengacak rambutku. Seperti yang biasa kamu lakukan. Ah, aku selalu suka caramu mengacak rambutku. Bahkan aku sekarang sudah terbiasa tidur dengan ucapan "selamat malam" dan bangun dengan ucapan "selamat pagi" darimu. Tapi kini aku menyadari, ini adalah penantian terakhirku untukmu. Sia-sia menunggu orang yang bahkan tidak akan menatapmu, tidak akan berbalik, dan tidak akan berjalan ke arahmu. Mulai saat ini aku hanya harus membiasakan diri dan hatiku. Membiasakan diri supaya tidak menunggumu lagi, tidak menunggu ucapan "selamat malam" dan "selamat pagi" darimu. Juga membiasakan hatiku untuk tidak merindukanmu. Sekarang hanya ada satu yang harus ku tunggu. Titik air sisa hujan yang akan dan selalu menempel di jendela.


-Dari ku, orang yang jatuh cinta diam-diam-


Inspired by: Cinta yang tak mungkin – Elyzia Mulachela (Ost. Perahu Kertas)

Pengharapan(ku).

Sore itu aku menikmati senjaku di tepi danau. Sendiri. Sama seperti senja-senja sebelumnya. Kamu yangg selalu aku harap tak pernah berada disini. Menemaniku. Tidak sebagai teman berbagi curahan hati. Aku berharap sedikit lebih dari itu. Teman berbagi cinta. Iya, aku terlalu mengharapkanmu. Terlalu yakin bahwa aku akan bahagia bersamamu disaat aku menyadari sepenuhnya cintamu yang terlalu besar untuknya, harapanmu yang terlalu tinggi untuknya dan tempat di hatimu yang selalu dipenuhi olehnya.
Tuhan, jika boleh aku meminta ijinkanlah aku bersamanya. Ijinkanlah setidaknya aku merangkai hari dan kenangan yang indah bersamanya.
Dari kejauhan aku melihat sosokmu berjalan mendekat. Membelakangi matahari seperti itu membuatmu seperti siluet yang sempurna. Dengan tubuh tinggi atletis (aku rasa itu karena hobimu bermain basket) dan dengan rambut yang lurus tertata rapi oleh gel rambutmu itu. Aku senang ketika siluet sempurna itu duduk di sebelahku (tentunya aku akan lebih senang jika siluet sempurna itu menjadi milikku). Berada tepat disampingnya membuatku melihat sesuatu yang merusak kesempurnaan itu. Hari itu kamu berwajah murung. Entah karena apa. Aku tidak pernah berani bertanya padamu sebelumnya. Karena aku tahu tanpa aku bertanya pun kamu akan mengungkapkan kegelisahan hatimu.
"Hari ini aku melihat dia bersama laki-laki lain. Entah itu siapa. Tapi mereka berdua terlihat...mesra."
Aku menghela napas dan berusaha memikirkan kata-kata yang akan menenangkan hatinya.
"Lalu? Kemesraan tidak berarti mereka adalah sepasang kekasih bukan?"
Dia menggeleng. "Itu sudah cukup menjadi jawaban bagiku."
"Kenapa kamu tidak mengatakan dari dulu padanya bahwa kamu menyukainya?"
Dia tertawa kecil (atau mencemooh?). "Aku tidak punya cukup keberanian."
Aku memiringkan kepala memandangnya. "Jatuh cinta diam-diam itu gak enak ya?"
Dia mengamati lingkaran air yang dia buat menggunakan ujung jemari kakinya. "Heem."
Sama seperti aku yang jatuh cinta diam-diam padamu, menunggumu melepaskan dia, berbalik padaku, menggenggam tanganku, dan merengkuhku dalam pelukmu. Sakit ketika mendengarmu dengan muka berseri dan bibir yang tersenyum lebar saat bercerita tentangnya. Bahagia bisa menemanimu dan mendengarkan ceritamu sekalipun itu tentangnya. Iya, sakit dan bahagia itu memang selalu beriringan, Sayang. Mereka tidak akan pernah ada tanpa menemani yang lainnya. Ah, seandainya saja aku bisa memisahkan mereka dan hanya mengambil bagian bahagianya saja. Bersediakah kamu jika aku membagi bagian bahagia itu denganmu?
Tahukah kamu, Sayang? Selama ini aku selalu menganggap bahwa aku sedang tidak beruntung karena tidak bisa menjatuhkan hatimu kepadaku. Tapi mungkinkah suatu saat aku akan jadi orang yang beruntung itu? Entahlah. Aku sering memimpikan hal-hal yang akan aku lakukan bersamamu jika kamu benar-benar jadi milikku suatu saat nanti (apakah akan ada ‘suatu saat nanti’ itu, Sayang?). Kamu tahu, bahkan memimpikannya saja mampu membuat pipiku bersemu merah.
Dan apakah kamu juga tahu, Sayang? Selama ini tidak pernah sekalipun namamu luput dari setiap untaian doa-doaku. Berharap salah satu diantara banyak doaku berada di jalur yang benar dan Tuhan akan mengabulkannya. Membuat kita menjadi satu mengukir kenangan indah, menggoreskan warna-warna disetiap harinya, dan menuliskan cerita yg indah tentang kita.
Apakah mimpiku ini terlalu berlebihan, Sayang?

Inspired by: Terpukau - Astrid

Sabtu, 03 November 2012

Terlambat

"Heeeh, ayo makan bareng" Arya menghampiriku siang itu dan menggamit lenganku. Menarikku menuju kantin. Dia menengok sekeliling. Berusaha menemukan bangku kosong diantara puluhan siswa-siswa yang datang ke kantin untuk men-charge perut mereka sebelum memulai belajar kembali.
"Nah, kita duduk di situ aja" Arya kembali menarik lenganku menuju bangku di pojok kantin.
"Iih, ini tuh sakit tauu" rengekku sambil berusaha menggapai kepalanya. Berniat menjitaknya. Tapi dengan tinggi badan 186cm dan tinggi ku yang hanya 153 cm, membuat tanganku bahkan sulit untuk mencapai puncak kepalanya.
"Wee, gak kena" Dia menjulurkan lidahnya mengejek.
Aku hanya merengut. Arya memang hobi mengerjaiku seperti itu.
"Kamu mau pesen apa? Biar aku yang pesenin. Kasihan kalo yang mesti desak-desakkan pesen makanan. Udah badan mungil" Arya kembali mengejek sambil tertawa.
Aku kembali merengut. Tadinya aku mau nekat memesan makanan sendiri. Tapi nyaliku ciut begitu melihat kerumunan anak-anak yang sedang mengantri memesan makanan.
"Kayak biasanya deh.." kataku pasrah.
Arya mengangguk sambil berlalu. Ku perhatikan dia disetiap langkahnya. Dengan tubuhnya yang jangkung itu dia pasti bisa dengan mudah menyerobot antrian di depannya. Dasar curang, aku mengejek dalam hati. Tapi bukan hanya itu yang membuatku memperhatikannya. Entah sejak kapan aku mulai memperhatikannya. Entah sejak kapan perasaanku kepadanya mulai berubah. Entah sejak kapan, si "Adik" menginginkan "Kakak" nya menjadi lebih dari seorang kakak. Ya, selama ini hubunganku dengan dia berjalan dengan baik. Layaknya sahabat yang sudah saling mengenal sangat lama. Layaknya kakak dan adik.
Pikiranku menerawang mengingat kata-kata Nawang minggu lalu.
"Udah, bilang aja kalo kamu suka sama dia. Toh selama ini juga dia selalu memberikan respon yang positif kan?"
"Tapi kan selama ini dia cuma nganggep aku ini adiknya. Gak lebih. Dan juga...hei, bukannya aku cewek? Mana ada cewek yang ngomong duluan."
"Sekarang ini udah era modern, Sha. Kalo kamu gak cepetan ngomong, keburu dia diambil orang, terus kamu gak kebagian cowok, terus kamu jadi jomblo seumur hidup. Hiiih, bayanginnya aja merinding, Sha."
"Iih, apaan sih kamu..."
"Heh, bengong" Arya mengibaskan tangannya di depan muka ku. "Tuh dimakan. Keburu dingin..."
"Ar, aku mau ngomong.."
"Ngomong apaan? Serius amat. Biasa aja kaliii. Aku juga mau ngomong nih."
Hatiku mencelos. Jangan-jangan apa yang bakal Arya omongin sama kayak apa yang bakal aku omongin, kataku dalam hati.
"Uhm, kalo gitu kamu dulu deh."
"Curaaang. Kan ladies first."
"Gak mau. Pokoknya yang tua dulu" Aku menjulurkan lidahku.
Arya tampak menimbang-nimbang. "Aku barusan jadian sama Janette. Hehe. Gak nyangka aja ya ternyata dia suka sama aku. Dia duluan lho yang ngomong kalo suka sama aku."
Pyarr. Seperti ada yang runtuh di dalam dadaku. Aku tersenyum kecut.
"Seriusan? Waah, makanan kali ini kamu dong yang mesti bayar" Aku berusaha tersenyum lebar.

"Enak aja. Uang saku mepet nih. Besok aja. Hehe. Tadi kamu mau ngomong apaan?"
Aku berusaha memasang tampang menggodanya. "Uhm, kasih tau gak yaa? Gak aja deh. Haha..."

Arya langsung melotot. Kedua tangannya langsung berusaha mengacak rambutku.
"Yee curang curaang... Apaan sih? Kasih tau dong. Pengen tau banget nih.. Ayo kasih tau dong..."
***

Jumat, 28 September 2012

Pulang

Ingin aku pulang.. 
Merebahkan semua lelahku 
Mengobati rindu yang kurasa telah sampai pada puncaknya 
Menyampaikan tangis dan tawa yang kusimpan dari waktu ke waktu 
Aku tak hendak menggugat kesepian yang nanti menyambutku 
Bagiku pulangku akan jadi satu2nya penawar gundah 
Ingin aku pulang 
Seperti burung yang kembali ke sarang..