Aku duduk termenung di balkon kamar lantai dua ku sore itu. Memandang cincin yang sudah setahun belakangan ini melingkar dengan tenang di jari manis kiriku. Aku tersenyum mengingat semuanya. Hari itu mendung. Tapi kamu kukuh mengajakku menikmati bangunnya matahari dari tidurnya. Ketika orang lain lebih suka menikmati semburat hangat senja, kenapa kamu malah lebih memilih dinginnya fajar, Sayang? Itu yang membuatmu berbeda. Itu yang membuatku jatuh untukmu. Lama kita menunggu merah matahari muncul di ufuk timur. Sembari bermain-main dengan embun yamg dinginnya menyentuh ujung jemari kaki telanjangku. Aku pikir kamu sudah menyerah menunggu mentari mu. Saat kamu mengeluarkan kotak hitam kecil dari balik saku kemejamu.
"Kamulah matahari yang aku tunggu muncul. Untuk menghangatkan dan menerangiku."
Kamu tersenyum sembari menyematkan cincin perak bermata kecil dari kotak hitam kecil. Kamu begitu konsisten, Sayang. Entah itu pernyataan cintamu dulu atau lamaranmu yang sekarang. Tanpa berpanjang kata kamu langsung menyampaikan intinya. Hal itu juga yang aku suka.
Selesai mengamati cincin di jari manisku aku melirik tumpukan foto di meja kecil sebelah tempatku duduk sekarang. Fotomu dengan dia. Kamu pikir aku tidak tahu, Sayang? Ketika bahkan kamu bermain dengan gadissephia mu itu. Entah apa yang kalian pikirkan saat itu. Apa kurangnya aku dan apa lebihnya dia? Belum cukupkah cinta yang aku beri selama ini sampai tega kamu mencari cinta yang lainnya? Perempuan itu, bukankah dia sama sepertiku? Sebagai sesama kaum hawa tidakkah dia pernah berpikir bagaimana dia saat ada diposisiku? Sakit, iya. Marah, sangat. Aku merasa seperti keledai yang bisa kalian bodohi. Terjawab sudah tanyaku beberapa waktu ini. Kemanakah kamu saat perayaan hari jadi pertunangan kita dua hari lalu? Meeting? Iya, dengan perempuan itu, bukan? Pergi kemana setiap perhatian dan waktumu yang biasanya hanya kamu limpahkan padaku? Siapa lagi kalau bukan perempuan itu. Dia memang cantik. Tapi bukankah aku juga tidak kalah cantik. Dan kenapa kalian sebegini terlihat mesra difoto? Karena dia kekasihmu? Aku juga kekasihmu dan tidak pernah kamu sebegini mesranya. Katakan apakah perempuan itu yang menggodamu, Sayang? Pasti iya. Aku tahu kamu tidak akan jatuh semudah itu. Tapi kenapa? Apa yang telah perempuan itu lakukan padamu?
Tanpa terasa air mataku mengaliri kedua sudut mataku. Terlebih saat aku harus dengan terpaksa melepas cincin darimu. Untuk apa aku masih mengenakannya disaat cintamu bahkan sudah tidak utuh untukku lagi. Sudahkah kamu memberikan perempuan itu cincin yang serupa, Sayang? Aku mengedipkan mataku. Mencegah air mataku tidak meluap. Karena ini terlalu berharga hanya untuk menangisi kalian. Ketika kamu merengek mempertahankanku, aku dengan tegas berkata tidak. Bahkan keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali, bukan?
Tuhan, lumpuhkanlah ingatanku tentang dia. Hapuskanlah semuanya. Ketika hanya satu orang saja yang bertahan berjuang untuk menjadi kita, bukankah jalan terbaik adalah melepaskan?
-orang yang berusaha melangkah dari curamnya masa lalu-
Inspired by: Lumpuhkan ingatanku - Geisha.