Kamis, 24 Oktober 2013

Pengharapan(ku).

Sore itu aku menikmati senjaku di tepi danau. Sendiri. Sama seperti senja-senja sebelumnya. Kamu yangg selalu aku harap tak pernah berada disini. Menemaniku. Tidak sebagai teman berbagi curahan hati. Aku berharap sedikit lebih dari itu. Teman berbagi cinta. Iya, aku terlalu mengharapkanmu. Terlalu yakin bahwa aku akan bahagia bersamamu disaat aku menyadari sepenuhnya cintamu yang terlalu besar untuknya, harapanmu yang terlalu tinggi untuknya dan tempat di hatimu yang selalu dipenuhi olehnya.
Tuhan, jika boleh aku meminta ijinkanlah aku bersamanya. Ijinkanlah setidaknya aku merangkai hari dan kenangan yang indah bersamanya.
Dari kejauhan aku melihat sosokmu berjalan mendekat. Membelakangi matahari seperti itu membuatmu seperti siluet yang sempurna. Dengan tubuh tinggi atletis (aku rasa itu karena hobimu bermain basket) dan dengan rambut yang lurus tertata rapi oleh gel rambutmu itu. Aku senang ketika siluet sempurna itu duduk di sebelahku (tentunya aku akan lebih senang jika siluet sempurna itu menjadi milikku). Berada tepat disampingnya membuatku melihat sesuatu yang merusak kesempurnaan itu. Hari itu kamu berwajah murung. Entah karena apa. Aku tidak pernah berani bertanya padamu sebelumnya. Karena aku tahu tanpa aku bertanya pun kamu akan mengungkapkan kegelisahan hatimu.
"Hari ini aku melihat dia bersama laki-laki lain. Entah itu siapa. Tapi mereka berdua terlihat...mesra."
Aku menghela napas dan berusaha memikirkan kata-kata yang akan menenangkan hatinya.
"Lalu? Kemesraan tidak berarti mereka adalah sepasang kekasih bukan?"
Dia menggeleng. "Itu sudah cukup menjadi jawaban bagiku."
"Kenapa kamu tidak mengatakan dari dulu padanya bahwa kamu menyukainya?"
Dia tertawa kecil (atau mencemooh?). "Aku tidak punya cukup keberanian."
Aku memiringkan kepala memandangnya. "Jatuh cinta diam-diam itu gak enak ya?"
Dia mengamati lingkaran air yang dia buat menggunakan ujung jemari kakinya. "Heem."
Sama seperti aku yang jatuh cinta diam-diam padamu, menunggumu melepaskan dia, berbalik padaku, menggenggam tanganku, dan merengkuhku dalam pelukmu. Sakit ketika mendengarmu dengan muka berseri dan bibir yang tersenyum lebar saat bercerita tentangnya. Bahagia bisa menemanimu dan mendengarkan ceritamu sekalipun itu tentangnya. Iya, sakit dan bahagia itu memang selalu beriringan, Sayang. Mereka tidak akan pernah ada tanpa menemani yang lainnya. Ah, seandainya saja aku bisa memisahkan mereka dan hanya mengambil bagian bahagianya saja. Bersediakah kamu jika aku membagi bagian bahagia itu denganmu?
Tahukah kamu, Sayang? Selama ini aku selalu menganggap bahwa aku sedang tidak beruntung karena tidak bisa menjatuhkan hatimu kepadaku. Tapi mungkinkah suatu saat aku akan jadi orang yang beruntung itu? Entahlah. Aku sering memimpikan hal-hal yang akan aku lakukan bersamamu jika kamu benar-benar jadi milikku suatu saat nanti (apakah akan ada ‘suatu saat nanti’ itu, Sayang?). Kamu tahu, bahkan memimpikannya saja mampu membuat pipiku bersemu merah.
Dan apakah kamu juga tahu, Sayang? Selama ini tidak pernah sekalipun namamu luput dari setiap untaian doa-doaku. Berharap salah satu diantara banyak doaku berada di jalur yang benar dan Tuhan akan mengabulkannya. Membuat kita menjadi satu mengukir kenangan indah, menggoreskan warna-warna disetiap harinya, dan menuliskan cerita yg indah tentang kita.
Apakah mimpiku ini terlalu berlebihan, Sayang?

Inspired by: Terpukau - Astrid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar