Sore itu aku menikmati senjaku di
tepi danau. Sendiri. Sama seperti senja-senja sebelumnya. Kamu yangg selalu aku harap
tak pernah berada disini. Menemaniku. Tidak sebagai teman berbagi curahan hati.
Aku berharap sedikit lebih dari itu. Teman berbagi cinta. Iya, aku terlalu
mengharapkanmu. Terlalu yakin bahwa aku akan bahagia bersamamu disaat aku
menyadari sepenuhnya cintamu yang terlalu besar untuknya, harapanmu yang
terlalu tinggi untuknya dan tempat di hatimu yang selalu dipenuhi olehnya.
Tuhan,
jika boleh aku meminta ijinkanlah aku bersamanya. Ijinkanlah setidaknya aku
merangkai hari dan kenangan yang indah bersamanya.
Dari kejauhan aku melihat sosokmu
berjalan mendekat. Membelakangi matahari seperti itu membuatmu seperti siluet
yang sempurna. Dengan tubuh tinggi atletis (aku
rasa itu karena hobimu bermain basket) dan dengan rambut yang lurus tertata
rapi oleh gel rambutmu itu. Aku senang ketika siluet sempurna itu duduk di
sebelahku (tentunya aku akan lebih senang
jika siluet sempurna itu menjadi milikku). Berada tepat disampingnya
membuatku melihat sesuatu yang merusak kesempurnaan itu. Hari itu kamu berwajah
murung. Entah karena apa. Aku tidak pernah berani bertanya padamu sebelumnya.
Karena aku tahu tanpa aku bertanya pun kamu akan mengungkapkan kegelisahan
hatimu.
"Hari ini aku melihat dia bersama laki-laki
lain. Entah itu siapa. Tapi mereka berdua terlihat...mesra."
Aku menghela napas dan berusaha
memikirkan kata-kata yang akan menenangkan hatinya.
"Lalu? Kemesraan tidak berarti mereka adalah
sepasang kekasih bukan?"
Dia menggeleng. "Itu sudah
cukup menjadi jawaban bagiku."
"Kenapa kamu tidak mengatakan dari dulu padanya
bahwa kamu menyukainya?"
Dia tertawa kecil (atau
mencemooh?). "Aku tidak punya cukup keberanian."
Aku memiringkan kepala
memandangnya. "Jatuh cinta diam-diam itu gak enak ya?"
Dia mengamati lingkaran air yang
dia buat menggunakan ujung jemari kakinya. "Heem."
Sama seperti aku yang jatuh cinta
diam-diam padamu, menunggumu melepaskan dia, berbalik padaku, menggenggam
tanganku, dan merengkuhku dalam pelukmu. Sakit ketika mendengarmu dengan muka
berseri dan bibir yang tersenyum lebar saat bercerita tentangnya. Bahagia bisa
menemanimu dan mendengarkan ceritamu sekalipun itu tentangnya. Iya, sakit dan
bahagia itu memang selalu beriringan, Sayang. Mereka tidak akan pernah ada
tanpa menemani yang lainnya. Ah, seandainya saja aku bisa memisahkan mereka dan
hanya mengambil bagian bahagianya saja. Bersediakah kamu jika aku membagi
bagian bahagia itu denganmu?
Tahukah
kamu, Sayang? Selama ini aku selalu menganggap bahwa aku sedang tidak beruntung
karena tidak bisa menjatuhkan hatimu kepadaku. Tapi mungkinkah suatu saat aku
akan jadi orang yang beruntung itu? Entahlah. Aku sering memimpikan hal-hal yang
akan aku lakukan bersamamu jika kamu benar-benar jadi milikku suatu saat nanti (apakah akan ada ‘suatu saat nanti’ itu,
Sayang?). Kamu tahu, bahkan memimpikannya saja mampu membuat pipiku bersemu
merah.
Dan
apakah kamu juga tahu, Sayang? Selama ini tidak pernah sekalipun namamu luput
dari setiap untaian doa-doaku. Berharap salah satu diantara banyak doaku berada
di jalur yang benar dan Tuhan akan mengabulkannya. Membuat kita menjadi satu
mengukir kenangan indah, menggoreskan warna-warna disetiap harinya, dan
menuliskan cerita yg indah tentang kita.
Apakah mimpiku ini terlalu
berlebihan, Sayang?
Inspired by: Terpukau - Astrid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar